Terpilih Jadi Presiden Perlucutan Senjata PBB, Suriah Dikritik

NEW YORK – Sejumlah negara anggota Konferensi Perlucutan Senjata PBB menyuarakan kritik setelah Suriah terpilih sebagai presiden forum.

Dilaporkan Sky News Senin (28/5/2018), sesuai alfabet, Suriah (Syria) menjadi presiden forum masa bakti 28 Mei sampai 24 Juni menggantikan Swiss.

Perwakilan Amerika Serikat (AS), Robert Wood, menyebut terpilihnya Suriah sebagai “salah satu hari terkelam dalam sejarah Konferensi Perlucutan Senjata”.

Sebab, pemerintahan Presiden Bashar al- Assad selama ini dituding melakukan serangan menggunakan senjata kimia ke rakyat sipil.

“Rezim Damaskus tidak mempunyai kredibilitas atau moral untuk duduk sebagai pemimpin forum. Komunitas internasional harus bersuara,” desak Wood.

Kritikan juga datang dari Kementerian Luar Negeri Inggris, yang menyatakan Suriah bakal mengabaikan norma dan perjanjian perlucutan senjata.

“Namun, kami memahami bahwa kami tidak bisa menolak terpilihnya Suriah. Kecuali yang bersangkutan memilih mengundurkan diri,” ujar Kemenlu Inggris.

Politisi Israel, Yair Lapid, menyebut keputusan PBB memilih Suriah sebagai Presiden CD merupakan “keputusan paling absurd”.

“Bagaimana yang lain bisa menerima keputusan PBB memilih diktator yang sudah membunuh 500.000 rakyatnya? CD harus membatalkan keputusan itu,” kata Lapid.

Baca Juga : Airlangga Hartarto Sebut Koalisi Jokowi Saat Ini Sudah Kuat

Dilaporkan 70 orang tewas dan 500 lainnya terluka dalam serangan yang dilakukan militer Suriah di Douma, markas pemberontak di Ghouta Timur, April lalu.

Rusia bereaksi ketika negara Barat seperti AS dan Inggris menyebut rezim Assad menggunakan senjata kimia ke para pemberontak.

“Kami punya bukti yang menyatakan Inggris terlibat secara langsung mengatur aksi provokatif ini,” beber juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Igor Konashenkov.