Semuanya Mata ke All England, Taufik Hidayat : Semuanya Lantaran Rudy Hartono

Semuanya Mata ke All England, Taufik Hidayat : Semuanya Lantaran Rudy Hartono

Semuanya Mata ke All England, Taufik Hidayat : Semuanya Lantaran Rudy Hartono

Jakarta – All England menjadi turnamen bergengsi sebagai turnamen tertua. Bagi masyarakat Indonesia punya daya tarik tersendiri karena faktor Rudy Hartono.

All England sudah dimulai sejak 1898. Sejak pertama kali digelar, ajang itu sudah pindah rumah sampai delapan kali. Di antara stadion-stadion yang pernah menjadi homebase All England, Wembley Arena dan Barclaycard Arena yang memiliki kesan mendalam bagi para pemain Indonesia.

Pada dua stadion itulah, wakil-wakil Merah Putih mengukir sejarahnya. Termasuk ketika Tan Joe Hok menjadi wakil Indonesia pertama yang menjadi juara All England, tahun 19659. Sejak itu, Indonesia berhasil mengoleksi 44 gelar. Rudy menjadi pemain paling sukses dengan meraih delapan gelar juara dnegan tujuh di antaranya didapatkan beruntun (1968-1974). Satu gelar lainnya didapatkan pada tahun 1976. Rekor itu belum terpecahkan hingga kini.

Bahkan, Rudy telah menciptakan rekor saat menjadi juara di tahun 1968. Rudy, pria kelahiran Surabaya 18 Agustus 1949, menjadi pemain termuda sebagai juara All England. Waktu itu dia berusia 18 tahun dan tujuh bulan.

Situs resmi turnamen menyebut Rudy memiliki kecepatan yang tak bisa ditandingi para pemain lawan pada era tersebut. Dalam situs resmi All England sebuah penilaian istimewa disematkan kepada penampilan Rudy dalam final tahun 1974. Rudy melawan pemain Malaysia Punch Gunalan.

“Pergerakan Rudy seperti dewa-dewa Yunani. Perilakunya di lapangan sangat sempurna, sportif, dan dia sosok yang sopan.”

Taufik memberikan respek terhadap rekor-rekor Rudy itu. Taufik yang mencatatkan berhasil meraih juara Indonesia Terbuka enam kali kesulitan untuk meraih titel All England bahkan hingga dia memutuskan pensiun.
Rudy Hartono

Rudy Hartono

Taufik mengaku daya magis All England sebagai turnamen tertua. Diluar itu, ada satu beban penambahan karena warisan Rudy.

Baca Juga : Candaan Raja Salman yang Buat Jokowi Tertawa

” Saya belum mujur di All England, bahkan juga tidak bakal pernah berlangsung (jadi juara) he he he. All England ini mempunyai level yang sama juga dengan Indonesia Open, namun turnamen ini yaitu turnamen tertua. Waktu super series yang lain belum miliki nama, All England telah jadi turnamen besar, ” kata Taufik dalam percakapan dengan detikSport, Senin (6/3/2017).

” Saat ini sesudah keduanya sama miliki predikat super series, All England tetaplah jadi turnamen yang paling bergengsi. Saya rasakan sendiri, auranya memanglah tidak sama. Wasit serta hakim garis yang bertugas yaitu mereka-mereka yang begitu memiliki pengalaman.

Support by : Detik.com

” Diluar itu, saya rasakan beban lebih setiap saat tampak disini lantaran orang-orang kita begitu aware pada All England. Kondisi itu nampak lantaran catatan rekor Rudy Hartono, ” papar Taufik sambil bersiap-siap terbang ke Inggris.

Juara All England tunggal putra dari Indonesia :

Tan Joe Hok : 1959
Rudy Hartono : 1968-1974, 1976
Liem Swie King : 1978, 1979, 1981
Ardy B. Wiranata : 1991
Haryanto Arbi : 1993, 1994