Perang Dagang AS-China, Entrepreneur Minta Pemerintah Petakan Kebutuhan

Perang Dagang AS-China, Entrepreneur Minta Pemerintah Petakan Kebutuhan

         JAKARTA, Potensi perang dagang pada Amerika Serikat serta China janganlah disikapi pemerintah dengan waspada.

Ketua Asosiasi Entrepreneur Indonesia (Apindo) bagian Jalinan Internasional serta Investasi Shinta Widjaja Kamdani menyebutkan, dalam hal semacam ini, tidaklah heran jika AS memberlakukan perlindungan tinggi pada product besi- baja mereka dari China yang produksi besi-baja-nya hyper competitive. Sebab, untuk AS, industri baja dipandang jadi industri peka.

Menurutnya, pemerintah tidaklah perlu tergesa-gesa ambil sikap. Tetapi, pemerintah dapat menyiapkan langkah yang perlu di ambil.

Shinta mengatakan, dalam hal semacam ini Indonesia butuh memetakan kebutuhan. Di satu bagian, industri hilir baja membutuhkan import untuk keberlangsungan produksi. Tetapi, di bagian beda, kesempatan pasar untuk industri baja yang baru diinvestasikan juga butuh dijaga.

“Untuk itu, yang butuh dikerjakan pertama-tama yaitu tingkatkan efisiensi produksi besi-baja nasional dengan menghimpit harga daya untuk industri, ” kata Shinta pada Kontan. co. id, Minggu (25/3/2018).

Ke-2, menurut Shinta, pemerintah butuh lakukan kontrol atau audit pada import besi-baja, terutama dari China serta AS. Apakah type serta jumlahnya memanglah sesuai sama keperluan atau tidak.

“Jangan hingga ada permainan kartel import. Butuh juga diwaspadai apakah ke-2 negara itu lakukan dumping pada Indonesia karna ini bisa mengganggu persaingan perebutan harga besi-baja produksi nasional serta merugikan investasi hulu besi-baja yang tengah kita kembangkan, ” ucapnya.

Terdapat banyak argumen menurutnya, Indonesia tidak dapat ikutan lakukan perlindungan seperti yang dikerjakan AS serta China.

Baca Juga : Jokowi Hadiri Resepsi Pernikahan Pradista, Siapakah Dia?

Argumen pertama, Indonesia masih tetap belum juga dapat menghasilkan beragam type baja serta alumunium untuk mensuplai semua keperluan industri menengah serta kelanjutan dari besi serta alumunium, terutama industri otomotif, bahan baku infrastruktur, dan sebagainya. Kekeringan supply ini masih tetap begitu besar, yaitu sekitaran 20 persen-40 % keperluan mengkonsumsi besi-baja-alumunium nasional.

“Inilah argumennya pemerintah buka kesempatan investasi besar untuk industri hulu besi-baja-alumunium yang sekarang ini investasinya tengah dikerjakan pada Krakatau Steel dengan Jepang serta Korea, ” tutur dia

Ke-2, industri besi-baja-alumunium Indonesia juga masih tetap belum juga dapat menghasilkan barang dengan harga yang kompetitif karna harga daya yang tinggi. Mengakibatkan, produksi besi-baja-alumunium Indonesia masih tetap lebih mahal 15 persen-20 % diatas harga internasional.

Ini mengakibatkan semua rantai produksi nasional yang disebut turunan dari industri besi-baja-alumunium atau industri yang memakai besi-baja-alumunium, seperti industri otomotif jadi turut tidak kompetitif.

Ke-3, Industri besi-baja-alumunium Indonesia masih tetap belum juga dapat menghasilkan sebagian type besi-baja khusus seperti besi-baja enteng serta tidak tebal dengan ketahanan tinggi yang dibutuhkan oleh industri otomotif. Jikalau di produksi oleh Krakatau Steel, menurut Shinta, jumlah produksinya terbatas serta lebih mahal dari harga psar internasional.

“Ketiga aspek ini mengakibatkan Indonesia tidak dapat dengan irasional tingkatkan perlindungan atau batasan import besi-baja-alumunium karna ini otomatis juga akan membunuh industri turunan besi-baja-alumunium, ” kata dia.

Support by : kompas.com