Pemerintah Telusuri “Hilang”-nya 56.000 Aset Negara

JAKARTA – Sekretaris Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum serta Perumahan Rakyat (PUPR) Anita Firmanti mengutarakan, ada 56.000 barang punya negara (BMN) yang belumlah diketemukan.

BMN atau asset itu digolongkan tidak beres administrasi atau pencatatannya, serta penggunaannya tidak cocok gagasan.

“Kami tengah usahakan dengan instansi berkaitan ke manakah asset itu. Contohnya sebab pencatatannya dobel,” kata Anita dalam acara penandatanganan Berita Acara Serah Terima BMN dari Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR pada beberapa pihak penerima, di Auditorium Kementerian PUPR, Jakarta, Kamis (18/10/2018).

Ia memberikan contoh asset irigasi. Ada pemerintah kota yang mempunyai kebijaksanaan bangun diatas asset irigasi punya Kementerian PUPR. Berarti, asset itu masih tetap ada, tapi mesti di teliti kembali kehadiran serta kondisinya terbaru.

Contoh lainnya, pemeliharaan asset negara seperti rusun. Dahulu pembangunan rusun di daerah tidak diperlengkapi dengan masuknya jaringan listrik serta air untuk keperluan keseharian.

Hal tersebut menarik customer untuk beli atau menyewanya. Lalu, sesudah demikian tahun, berlangsung rusaknya pada bangunan, contohnya atap bocor serta merembet ke rusaknya yang lainnya.

Rusaknya itu memaksa pemerintah daerah ditempat tidak ingin terima asset itu serta minta untuk diperbaiki. Tentu saja akan ada cost kembali untuk perbaikannya.

“Dalam banyak masalah, cost dari pusat tidak ada, tetapi pemda katakan tidak ingin terima barang ini serta meminta diperbaiki. Dari pusat katakan tidak ada cost pemeliharaan. Ini permasalahan classic,” papar Anita.

Baca Juga : KPK Nilai Permohonan Praperadilan Irwandi Yusuf Tak Berdasar

Oleh karena itu, usaha percepatan penyerahan asset negara ini dipandang terpenting sebab pemda dapat dengan sah mengelolanya dengan memakai APBD.

Anita memberikan, Kementerian PUPR mengurus seputar 40 % asset negara. Ini adalah pekerjaan besar untuk dapat memeliharanya supaya berguna dengan optimal untuk kebutuhan penduduk luas.