Nasib R80, Pesawat Rancangan Habibie yang Belum Sempat Mengudara

JAKARTA – Presiden ketiga RI Bacharuddin Jusuf Habibie (BJ Habibie) meninggal dunia pada Rabu, 11 September 2019 pada usia 83 tahun. Namun, karya-karya dan kontribusinya akan tetap membekas sampai hari ini dan seterusnya.

Tak tanggung-tanggung, pesawat Gatotkaca N-250 yang melakukan penerbangan perdana pada 10 Agustus 1995 berhasil lahir berkat Habibie. Kala itu, Indonesia tercatat mampu membuat pesawat sendiri. Sebuah catatan yang fantastis. Tidak selesai sampai situ, bahkan hingga usia senjanya, ia tetap berusaha mengembangkan industri pesawat Indonesia dengan menciptakan pesawat R80.

Habibie merancang R80 menjadi jenis pesawat baling-baling untuk penerbangan jarak pendek dengan landasan yang pendek. Hal itu agar pesawat cocok dengan kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan. R80 direncanakan mulai terbang pada tahun 2022 dan ditargetkan untuk diproduksi masal pada 2021-2023.

Pesawat ini diproduksi oleh PT Regio Aviasi Industri (RAI), serta PT Dirgantara Indonesia (DI) yang akan berkonstribusi dengan membuat sebagian komponennya. R80 hadir dengan kapasitas lebih besar 60% dari N-250 dan mampu menampung 80-90 penumpang. Pembuatan prototipe pesawat tersebut membutuhkan dana USD1,6 miliar atau sekitar Rp20 triliun. termasuk juga pabriknya.

Baca Juga : Busquets Tentang Ansu Fati: Dia Harus Terus Berkembang

Nyatanya, pemerintah sudah mulai memperkenalkan R80 sejak Juni 2017 ke berbagai negara, diantaranya yang berada di Eropa. Meski saaat itu R80 baru dalam tahap desain, pemesanan pesawat dari Indonesia bahkan sudah mencapai 155 unit. Itu pula yang menjadi dasar keyakinannya bahwa proyek tersebut layak dan diperlukan.

Sayangnya, Habibie menghembuskan napas terakhirnya sebelum pesawat hasil rancangannya sempat mengudara. Meninggalnya seseorang yang merancang pesawat R80 tentu membuat semua orang menyayangkannya. Para pekerja pesawat R80 pun berjanji untuk merealisasikan rancangan pesawat BJ Habibie tersebut.