Keadilan untuk Guru Ngaji yang Diperkosa serta Buang Bayinya

Keadilan untuk Guru Ngaji yang Diperkosa serta Buang Bayinya

                JAKARTA, Tangis haru menyelimuti situasi ruangan sidang saat hakim membacakan putusan untuk BL (16), pembantu rumah tangga sekalian guru ngaji yang didakwa melukai bayinya sampai wafat serta membuangnya ditempat sampah, Kamis (28/7/2017).

Sesudah pernah dijebloskan ke penjara, BL bersukur masih tetap ada peluang baginya untuk mengenyam pendidikan serta melalui masa depan yang tambah baik.

Mata BL tampak merah karna menangis selesai mendengar ia dinyatakan bersalah, tetapi cuma dihukum untuk pembinaan di Panti Sosial Mardi Putera (PSMP) Handayani punya Kementerian Sosial.

Majelis hakim menilainya BL buang bayinya karna ketidaktahuan masalah kehamilan serta persalinan.

Baca Juga : Polisi Loloskan Pengendara Kawasaki Ninja 250 FI di JLNT Casablanca

Dalam pertimbangannya, hakim membacakan kalau pada 2016 yang lalu, BL berteman lewat Facebook dengan Ino, pemuda berumur 21 th. yang tinggal di Cikeusik juga tetapi lain RW. Sampai satu hari, Ino mengajak BL ke tempat tinggal rekannya.

Disana, BL dipaksa terkait tubuh walau telah menampik, memberontak, serta berteriak. BL juga pulang, tidak menyikapi prinsip Ino yang mengakui siap menikahinya bila berlangsung apa-apa. BL juga tidak memberitahu momen ini pada orangtuanya.

Dua bulan lalu, sinyal tanda kehamilan berlangsung. BL mual serta pusing, hingga dibawa orangtuanya untuk kontrol di puskesmas.

Dokter di puskesmas menyebutkan BL cuma alami maag. BL juga masih tetap menstruasi walau dalam jumlah yang lebih sedikit. Ia tidak tahu serta tidak percaya dianya hamil.

” Anak berhenti sekolah di SMK 5 Pandeglang serta muncul hasrat bantu ekonomi keluarga dengan pertolongan penyalur sampai jadi pembantu di Jalan Haji Jian 2B Jakarta Selatan, ” kata ketua majelis hakim, Fahimah Basyir, Kamis (27/7/2017).

Lalu pada 1 Mei 2017, satu bulan sesudah BL bekerja dirumah itu, sekitaran jam 05. 00 ia rasakan sakit yg tidak umum di perutnya. Ia coba buang air besar tetapi tidak dapat.

Sampai lalu gumpalan besar keluar dari perutnya tetapi menyangkut. Dalam kondisi 1/2 tersangkut itu, BL ambil pisau di dapur serta ke kamar mandi untuk keluarkan gumpalan itu.

Ia lalu memasukkan gumpalan itu ke kantong plastik hitam serta mengikatnya. Kantong diisi bayi serta ari-ari itu cuma dibuangnya ke tempat sampah dapur.

Info majikan dalam persidangan terlebih dulu tunjukkan kalau saat di terima kerja, BL tidak terlihat seperti orang hamil.

Sebab bila mereka ketahui atau berprasangka buruk hamil, BL akan tidak di terima kerja. Info ini diperkuat oleh dokter kandungan yang menyebutkan saat hamil, bisa saja kalau perempuan masih tetap menstruasi serta tidak jadi bertambah berat tubuhnya.

Ini biasanya berlangsung pada mereka yang hamil pertama kalinya, di umur begitu muda, atau berlangsung masalah dalam kehamilannya.

Walau pernah diperdebatkan penyebabnya bayi yang dilahirkan BL wafat, hakim yakini kalau yang buat bayi itu wafat yaitu sayatan pisau yang tidak berniat memotong leher bayi dan ikatan kantong plastik yang buat bayi tidak dapat selamat.

Tidak seperti jaksa yang menuntut BL delapan th. penjara karna tuduhan membunuh bayinya, hakim dalam pertimbangannya mengaku BL yaitu korban perkosaan serta korban kemiskinan.

Sesudah diperkosa, di umur yang begitu belia, ia mesti bekerja membanting tulang, dimana semestinya ia memperoleh kasih sayang serta pendidikan.

” Anak melahirkan bayi yg tidak disangka sekalipun, dalam momen yang dirasakannya, ia memperoleh desakan batin serta trauma, ” tutur hakim.

” Air mata anak seringkali keluar, raut muka tertekan, tampak kalau anak type anak dengan perilaku tidak menyimpang, begitu polos, anak yang pandai serta juara kelas dari hasil rapor, serta kondisi jelek di kampungnya berisi mengajar anak SD membaca Qur’an. Anak alami kehamilan bukanlah karna hubungan yang diinginkan, ” papar hakim.

Atas basic pertimbangan ini, hakim juga menampik tuntutan jaksa serta menjatuhi hukuman tuntunan di panti sosial sesuai sama referensi Tubuh Pemasyarakatan (Bapas).

” BL, janji pada sendiri untuk jadi orang yang berhasil, berbakti pada orang-tua. Tunjukkan itu, menjadikan pengalaman ini bernilai, lakoni dengan baik, ” pesan hakim selesai membacakan putusan.

Rini Handayani, Asisten Deputi Perlindungan Anak dari Kekerasan serta Eksploitasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan serta Perlindungan Anak mengapresiasi vonis majelis hakim.

Menurut dia, ini adalah terobosan untuk masalah hukum, dengan putusan yang peka pada kebutuhan anak serta dalam pertimbangannya sangat jeli.

” Serta satu diantara hakim, beliau felah ikuti kursus system peradilan anak, jadi memanglah itu begitu berguna, ” tutur Rini.

Rini menyebutkan pihaknya selalu berupaya menghindar terjadinya problem ini dengan mengaplikasikan perlindungan terpadu berbasiskan orang-orang.

BL serta anak yang lain diangap masih tetap polos serta perlu tuntunan dari orang dewasa. Tidak ada tuntunan yang pas, momen seperti yang dihadapi BL dapat menerpa siapapun.

” Anak mesti dirangkul, dia takut menyebutkan apa yang berlangsung pada orangtuanya, serta ini dikerjakan lewat komunitas keluarga, ” kata Rini.

Support by : kompas.com