Fokus kepada Rusia dan China, AS Kurangi Pasukan di Afrika

WASHINGTON DC – Militer Amerika Serikat ( AS) menginformasikan akan menarik beberapa pasukan mereka yang bekerja di Afrika.

Dilaporkan BBC Jumat (16/11/2018), pengurangan pasukan itu adalah sisi dari konsentrasi militer dalam mencegah China dan Rusia.

Petinggi pertahanan anonim AS berkata pada CNN, pasukan yang bekerja dalam misi kontra-terorisme akan ditarik setahap saat tiga tahun yang akan datang.

Seputar 700 dari keseluruhan 7.200 personil Komando Afrika (Africom) akan ditarik. Petinggi itu meramalkan, pasukan yang ditarik pulang bekerja di Kenya, Kamerun, serta Mali.

Penarikan pasukan itu akan berefek pada pergantian manfaat militer AS dari yang awalannya memberikan pertolongan tehnis jadi hanya tuntunan serta penyaluran data intelijen.

Jubir Pentagon Candice Tresch berkata dari Taktik Pertahanan Nasional yang launching awal 2018 ini berisi prioritas bersaing dengan China serta Rusia.

“Kami akan mengendalikan lagi sumber daya yang beroperasi di Afrika dalam beberapa waktu yang akan datang untuk menjaga kesetimbangan di semua dunia,” papar Tresch.

Pada VOA, petinggi militer anonim berujar penarikan itu tidak ada hubungan dengan serangan di Niger pada Oktober 2017 yang menewaskan empat pasukan AS.

“Menyiapkan pasukan untuk kontra-terorisme tidak sama juga dengan persiapan menyongsong rintangan dari Rusia dan China,” jelas petinggi itu.

Rabu (14/11/2018), ada laporan dari Komite Taktik Pertahanan Nasional jika militer AS dapat menanggung derita kekalahan bila berkonflik dengan China serta Rusia.

Baca Juga : Kenangan Valentino Rossi soal Debut Dani Pedrosa di MotoGP

Dalam laporan itu, kemampuan militer AS yang menguasai dalam beberapa generasi paling akhir mulai tergerus serta mesti dicarikan jalan keluarnya.

“Kelebihan militer Amerika sudah terkikis dalam tingkat yang begitu beresiko. Rintangan yang perlu diatasi bila tidak mau keamanan nasional jadi taruhannya,” demikian bunyi laporan itu.

Peringatan pada pemerintahan Presiden Donald Trump itu muncul sesudah biaya pertahanan terancam dipangkas pada tahun fiskal 2018 serta 2019.