Evaluasi Ganda Putra di All England, Ade/Wahyu Kurang Memuaskan

Agen Bola Online – Pelatih ganda putra Herry Iman Pierngadi tidak senang dengan hasil di All England 2020. Tampilan Ade Yusuf/Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira kurang memberi kepuasan.

Indonesia sukses menjaga satu gelar di BWF World Tur Super 1000 lewat ganda kombinasi, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti.

Sesaat ganda putra yang dijagokan dapat mendapatkan gelar tidak berhasil terjadi. Dari empat pasang, perolehan paling baik dicatatkan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon jadi runner up.

Juara bertahan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan harus juga berhenti di set perempat final. Sesaat Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto serta Ade Yusuf/Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira semasing berhenti di set dua serta set pertama.

Pelatih ganda putra, Herry Iman Pierngadi, menjelaskan semasing pasang mempunyai evaluasinya sendiri. Tetapi yang paling alami penurunan perfomanya menang Ade/Wahyu.

“Terkadang dapat bagus, terkadang dapat drop. Ini sebagai PR serta pelajari untuk mereka sendiri. Saya serta PBSI telah memberi peluang pada mereka untuk turut laga dimana saja. Hanya hasilnya masih kurang memberi kepuasan,” kata Herry dalam launching yang diterima detikSport.

Tidak hanya Ade/Wahyu, Herry menyorot tampilan Fajar/Rian yang alami penurunan dari musim kemarin.

“Jika hasil dari tahun kemarin memang tidak sama. Tahun kemarin mereka di semi-final, tahun ini mereka di set dua. Lepas dari itu pemain Inggris (Marcus Ellis/Chris Langridge) ini lumayan baik. Mereka main di kendang sendiri, pertahanannya baik, tidak mudah ditembus,” ia menerangkan.

Baca Juga : Rahasia Kehebatan MU di Era Sir Alex Ferguson

“Sedang tempo hari sayang Fajar/Rian tampil dibawah perform terbaik. Waktu itu, kaki Rian sedang memiliki masalah, jadi kecepatannya sedikit alami penurunan. Ditambah tempo hari menurut saya, Fajar banyak lakukan kekeliruan yang tak perlu,” sambungnya.

“Jadi keseluruhannya tampilan mereka dapat disebut cukup turun di All England tahun ini,” tegasnya.

Sesaat untuk Kevin/Marcus, pelatih yang dipanggil fans badminton Coach Naga Api ini menjelaskan, pemainnya telah bermain optimal.

“Mereka telah habis-habisan hanya ada faktor hokinya. Pada beberapa poin pada akhirnya cukup kurang sabar, terutamanya Kevin yang begitu cepat-cepat di muka,” katanya.

Ia menerangkan, jika Ahsan/Hendra kemungkinan kasusnya cukup tidak sama. Mereka semenjak set pertama rivalnya Jepang terus, ketat, serta rubber. Hingga kemudian mereka bertemu Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe. Memang jika bertemu mereka keadaan fisik pemain harus betul-betul fresh.

“Sebab seperti yang saya katakan, jika ingin mengambil point dari mereka harus membunuh. Membunuh berarti apa? Ya kita harus menyerang. Tidak dapat kita bisa point dengan gratis, menanti kekeliruan mereka. Jadi betul-betul harus membunuh, karena itu tenaga serta fisik harus fresh serta tidak bisa kendor,” tutupnya.