Cerita Eks Gafatar, Mengabdi di Orang-orang serta Selesai Terusir

Cerita Eks Gafatar, Mengabdi di Orang-orang serta Selesai Terusir

               JAKARTA, Seseorang bekas pengikut Gafatar, Adam Mirza, bercerita kisahnya turut dalam grup kepercayaan Gafatar yang sudah bubar pada 2015 yang lalu. Adam menerangkan, ada ketidaksamaan pandangan pada Negara Islam Indonesia, Al Qiyadah Islamiyah serta Gafatar dalam melihat perjuangan keagamaan.

Menurut Adam, nilai ajaran di NII serta Al Qiyadah Islamiyah relatif keras serta berlawanan dengan nilai agama serta ideologi Pancasila. Ia menjelaskan, NII mempunyai harapan kebangkitan Islam lewat cara membangun negara Islam, serta Al Qiyadah bergerak dengan rencana kerasulannya pada sang tokoh Ahmad Musadeq.

Sesaat dalam ajaran Millah Abraham, Ahmad sudah mencabut status kerasulannya serta merubah perspektifnya kalau Gafatar mengaplikasikan nilai agama dengan universal serta mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

Menurut Adam, Gafatar relatif ditentang oleh orang-orang karena masih tetap dipandang jadi organisasi turunan NII serta Al Qiyadah Islamiyah dengan rencana serta pandangan yang sama.

” Itu sebagai kegagalan pemahaman orang-orang mengenai apakah itu Millah Abraham serta Gafatar. Di situ kami di ajarkan hukum Tuhan itu tidak menghapus hukum beda, tapi mesti jadi hukum teratas serta universal, ” ungkap Adam dalam satu diskusi di Kantor YLBHI, Jakarta, Kamis (22/3/2018).

” Di ajaran Millah Abraham mengajarkan ke kami, bukan hanya kita yang miliki misi membawa kebangkitan, rekan-rekan dari agama serta kepercayaan beda juga, ” lanjut dia.

Dengan hal tersebut, kata Adam, Millah Abraham sangat mungkin umat dari agama serta kepercayaan beda dapat turut wujudkan nilai ajaran Millah Abraham. Adam menerangkan, ajaran itu buat pengikut Gafatar tidak sekali lagi konsentrasi memperjuangkan kebangkitan agama, tetapi kebangkitan peradaban orang-orang.

Baca Juga : Di tanya Berita Penutupan Alexis, Anies Jawab dengan Suara Tinggi

” Karna kita percaya bangsa ini miliki modal besar untuk jadi negara besar, manusianya, sumber dayanya. Maka dari itu juga mengapa Pancasila yang digadang dalam Gafatar. Kita menginterpretasikan nilai Pancasila, ” tuturnya.

Adam mencontohkan, dalam sila pertama Pancasila, pengikut Gafatar di ajarkan kalau semua ketidaksamaan agama serta kepercayaan adalah keniscayaan hidup di Indonesia. Hingga, ketidaksamaan tidak dilihat jadi alat untuk menyebabkan perpecahan.

” Kesadaran ini diikat dalam tindakan kemanusiaan, seperti tindakan sosial, nah ketika kami lakukan beberapa tindakan sosial, kami dipersekusi, serta diusir, kami bingung kita salah apa ya, ” kata dia.

Walau sebenarnya, kata Adam, kelompoknya sudah sukses mengelola beragam lahan gambut untuk kebutuhan pertanian. Ia mengungkap, ada pihak yang kirim surat edaran dengan luas yang memohon orang-orang mewaspadai pergerakan Gafatar.

” Berikut yang buat risih orang-orang, yang pada akhirnya berlangsung persekusi. Mulai sejak waktu itu, anggota kami di 30 propinsi ada terkena persekusi, ” kata dia.

Adam menuturkan, suku Dayak adalah pihak yang paling tertarik dengan program sosial Gafatar, seperti pertanian di lahan gambut serta merubah air payau jadi layak minum. Suku Dayak juga merajut perjanjian dengan Gafatar untuk mengelola tanah punya suku Dayak.

” Karna tidak mampu sendiri, kami putuskan bubar th. 2015. Serta kita bentuk grup tani Negeri Karunia Tuan Semesta Alam Nusantara yang meleset, serta dipandang kami menginginkan bentuk negara, ” katanya.

Mulai sejak waktu itu, pemerintah serta orang-orang lakukan penentangan pada beberapa eks Gafatar.

Support by : kompas.com