Bom Kembar Meledak di Masjid Libya saat Shalat Jumat, Satu Tewas

Bom Kembar Meledak di Masjid Libya saat Shalat Jumat, Satu Tewas

               BENGHAZI,  Ledakan bom kembar melanda sebuah masjid di Benghazi di wilayah timur Libya, Jumat (9/2/2018). Setidaknya satu orang tewas sementara 62 lainnya mengalami luka-luka.

Dilansir dari AFP, ledakan terjadi saat dimulainya ibadah shalat Jumat di kota terbesar kedua di Libya itu. Akibat ledakan menyebabkan para jemaah terluka, merusak lantai masjid, memecahkan kaca jendela.

Sumber keamanan mengatakan, salah satu bom disimpan di dalam sebuah peti yang ditinggalkan di pelataran masjid, sementara satu bom lainnya diduga diletakkan di rak sepatu di pintu masuk masjid.

Juru bicara rumah sakit Al-Jala, Fadia al-Barghathi mengatakan, setidaknya ada satu korban yang dilaporkan meninggal dunia dan 62 mengalami luka-luka.

Ledakan bom serupa juga terjadi di Benghazi dua pekan lalu, tepatnya pada 24 Januari. Kala itu ledakan bom kembar menyebabkan setidaknya 33 orang meninggal.

Hingga kini tidak ada yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, menunjukkan kekacauan yang terjadi di wilayah yang dikuasai kekuatan militer Khalifa Haftar itu.

Baca Juga : Di Jepang, Investor Mata Uang Virtual Dikenakan Pajak hingga 55 Persen

Misi PBB untuk Libya mengutuk keras aksi peledakan bom tersebut yang menimbulkan korban dari rakyat sipil.

“Tindakan kejam seperti ini tidak seharusnya menjadikan alasan pembenaran untuk melakukan serangan balas dendam. Investigasi yang cepat dan tidak memihak harus segera dilakukan dan membawa pelaku ke pengadilan,” kata Misi PBB tersebut di Twitter.

Libya telah diliputi kekerasan dan perpecahan sejak diktator Moamer Kadhafi digulingkan dan terbunuh dalam sebuah gerakan pemberontakan yang didukung NATO pada tahun 2011.

Pemerintah persatuan yang didukung PBB telah berjuang untuk menegaskan kewenangannya di luar Libya barat. Haftar mendukung administrasi saingan yang berbasis di timur.

PBB saat ini terus mencoba untuk bernegosiasi untuk mengakhiri kekacauan politik saat ini dengan menyetujui pemilihan parlemen dan presiden akhir tahun ini, meski masih ada keraguan akan hal ini.

Support by : kompas.com