Acara yang Penuh Bahagia Itu Selesai Tragis, Separuh Tamu Undangan Terkubur Longsor

Acara yang Penuh Bahagia Itu Selesai Tragis, Separuh Tamu Undangan Terkubur Longsor

                   PURBALINGGA, Mendung masih tetap bergelayut di langit Dusun Pule, RT 3 RW 4, Desa Jingkang, Kecamatan Karangjambu, Purbalingga, Jawa Tengah, waktu empat jenazah korban tanah longsor ditandu menuju pemakaman setempat, Jumat (23/2/2018).

Jerit tangis dari keluarga korban pecah ketika keranda yang membawa jasad ke-4 anak kecil itu diangkat.

“Aku menginginkan meluk paling akhir anakku, ” ratap wanita 1/2 baya sambil terhuyung coba mencapai beberapa pembawa jenazah.

Istri Sukimin demikian terpukul atas kepergian buah hatinya, Abdul Roup (11) karena tanah longsor yang berlangsung Kamis (22/2/2018) petang. Tidak cuma Abdul Roup, tiga korban beda yang masih tetap berumur begitu belia, yaitu Al Karomi (7), Safangatul Isman (3), serta Sifaul Umam (9) juga diketemukan tidak bernyawa tertimbun material longsor didalam kamar tidur.

Satu diantara korban selamat sekalian saksi mata, Damin (30) mengungkap, peristiwa berawal waktu tuan-rumah, Solihin (45), mengadakan pengajian serta tasyakuran mendekati pernikahan putra sulungnya, Pujianto (19).

Tidak cuma itu, tasyakuran malam itu juga di gelar dalam rencana rayakan khitanan putra ke-2 Solihin, Sifaul Umam (9) yang sedianya juga akan dibarengkan dengan pernikahan kakaknya.

“Jadi paman saya (Solihin) mengundang kerabat serta tetangga untuk pengajian di tempat tinggalnya dari bada isya, ” tuturnya.

Baca Juga : Ganjil Genap di Tol, Ini Perkiraan Dampaknya untuk Lantas Lintas dari Bekasi

Udara sejuk kaki Gunung Slamet, ditambah guyuran hujan, serta sayup-sayup nada orang mengaji mengundang kantuk anak-anak yang turut dalam majelis. Supaya tidak mengganggu jalannya pengajian, beberapa orang-tua mengubahkan putra mereka yang terlelap kedalam kamar tidur di ruangan belakang.

“Bapak-bapak yasinan hingga jam 21. 00 WIB, anak-anak ngikut telah pada ngantuk serta dipindah ke kamar belakang, ” katanya.

Tetapi tidak ada yang sempat menganggap, malam yang khidmat mendekati hari bahagia untuk keluarga besar Solihin mesti selesai tragis. Selang 10 menit sesudah acara pengajian ditutup, waktu beberapa tamu undangan masih tetap bercengkerama serta nikmati sajian, lampu tempat tinggal Solihin mendadak padam. Situasi makin mencekam ketika nada gemuruh dari arah belakang tempat tinggal menghentak beberapa tamu.

Cuma dalam sebagian tarikan nafas, tebing tanah setinggi 15 mtr. di belakang tempat tinggal Solihin ambrol. Material tanah lumpur segera meluluhlantakkan dinding tempat tinggal serta merangsek kedalam seisi ruang.

“Saya sukses menyelamatkan diri, tapi separuh undangan yang beda tertimbun tanah serta tembok yang ambruk, ” tuturnya.

Jerit tangis serta teriakkan dari beberapa korban yang terjerat dibawah longsoran memecah keheningan. Sistem evakuasi berjalan dramatis, di dalam kepungan gulita, cuma dibantu kilat sinar petir, beberapa warga yang selamat berupaya membantu sanak serta tetangga mereka dengan memakai tangan kosong.

Kebanyakan orang dewasa yang waktu itu ada di ruangan tamu bisa dievakuasi dalam keadaan selamat. Tetapi nahas, empat anak, putra beberapa tamu undangan yang terlebih dulu tengah tidur di kamar belakang tidak bisa diselamatkan.

Semasing korban yaitu, Al Karomi (7), Safangatul Isman (3), Abdul Roup (11), termasuk juga Sifaul Umam yang sedianya juga akan dikhitan berbarengan dengan pernikahan kakaknya besok lusa, diketemukan dalam keadaan wafat dunia tertimbun material longsor.

Damin yang waktu diwawancara tetap dalam situasi berkabung itu bercerita, begitu kuat serta tegarnya hati Solihin. Tanpa ada tangis, atau tersamarkan air hujan, Solihin dengan tabah mencari sendiri jasad putranya, Sifaul serta ke-3 kemenakannya didalam kamar.

Tidak perduli pada keadaannya, Solihin nekat menggali serta mengangkat material longsor dengan tangan kosong sampai pakaian serta celana yang dipakai robek.

“Solihin, paman saya itu sesudah membantu kami yang tertimbun longsor di belakang segera lari ke tempat tinggal piranti desa, pakaiannya yang robek dilepaskan jadi tinggal gunakan celana dalam, ” papar Damin.

Bupati Purbalingga Tasdi yang pernah ada dalam sistem pemakaman diterima isak tangis keluarga korban. Mereka menghambur mengungkap rasa duka mendalam atas kepergian buah hati yang demikian mengagetkan.

Tasdi menyatakan, tempat tinggal Solihin mesti direlokasi ke tempat yang lebih aman. Gagasannya, Pemkab menyewa lahan Perhutani seluas satu hektar untuk lokasi relokasi korban longsor, sekalian jadi titik kumpul untuk warga bila berlangsung peristiwa mengagumkan atau bencana alam.

Kepala Desa Jingkang Bambang Hermanto menyebutkan, juga akan selekasnya merelokasi serta membuat rumah sesaat untuk keluarga korban. Pertolongan logistik berbentuk bahan bangunan juga sudah tiba atas pertolongan dari Tubuh Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purbalingga.

Sekarang ini, keluarga korban ada di Balai Desa Jingkang dan korban luka dirawat di Puskesmas Karangjambu serta Tempat tinggal Sakit Umum Daerah Goeteng Taroenadibrata.

“Akan selekasnya kami bangun tempat tinggal sesaat untuk keluarga korban dengan gotong-royong dengan warga, ” katanya.

Satu jenazah dari belasan korban hilang karena tanah longsor di Kabupaten Brebes Jawa Tengah kembali dapatkan Jumat (23/2/2018) siang. (Kompas TV)

Support by : kompas.com